Minggu, 08 Desember 2013

peran kepemimpinan (studi kasus)


PERAN KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK TANI BANGUN KARYO
Muhammad Dalvi Mustafa

ABSTRAK

            Kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya sehingga orang lain dapat bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Pada dasarnya masing-masing dari berbagai organisasi/kelompok pasti ada yang menjadi salah seorang pemimpin atau berbagai istilah lain yang sangat populer terhadap masyarakat itu sendiri. Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok. Sejak mula terbentuknya suatu kelompok social, seseorang atau beberapa orang di antara anggota kelompok melakukan peranan yang lebih aktif dari anggota kelompok lainnya sehingga orang tersebut lebih menonjol dari anggota lainnya. Dalam kelompok Tani Bangun Karyo, Pak Sudiro selaku ketua kelompok, merupakan pemimpin yang  dapat berada pada situasi apapun yang dipengaruhi oleh ketidak pastian lingkungan dan keterbatasan dana Pak Sudiro selalu dapat mengarahkan anggotanya untuk menanam dengan baik, mendukung perilaku para anggotanya yang ingin membangun keberhasilan kelompok, selalu meminta saran dan berunding pada anggota kelompok dalam pengambilan keputusan, serta berorientasi pada prestasi yang paling tinggi untuk dicapai dan terus menerus mencari peningkatan hasil karya dari anggotanya sehingga anggotanya dengan sendiri dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraannya menjadi lebih baik.

Kata Kunci : Kepemimpinan, Mengarahkan, Mendukung, Partisipatif, Orientasi Prestasi


Pendahuluan
Dalam suatu kelompok atau masyarakat selalu terdapat seorang pemimpin dan anggota yang dipimpin. Proses interaksi social yang terjadi dalam suatu kelompok atau masyarakat, akan mengarahkan pada perkenalan tiap individu yang kemudian dapat memunculkan pemimpin yang berdasarkan pada kemampuan yang mereka miliki. Mencari pengertian yang tepat tentang istilah kepemimpinan sebagai terjemahan dari kata “leadership” sering kali terjebak pada kata manajer, pejabat dan beberapa kata lainnya yang memiliki makna hampir mirip dengan kepemimpinan karena semua menunjuk pada pengertian status seseorang dalam kaitannya dengan masyarakat lainnya yang dibawahinya. Dalam kehidupan berma-syarakat, terdapat berbagai macam organisasi atau kelompok. Masing-masing organisasi memiliki jenis kepemimpinan sendiri-sendiri yang antara satu dan lainnya memiliki dan menuntut pola kepemimpinan yang berlainan, tergantung kepada situasi dan kondisi masyarakat yang dipimpinnya.  Gibson (1987, 259) menjelaskan bahwa konsep kepemimpinan adalah lebih sempit dari manajemen atau manajer dimana manajer digunakan dalam organisasi formal yang bertanggungjawab dan dipercaya untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan pemimpin di organisasi informal tidak selalu melaksanakan fungsi manajemen sehingga pemimpin hanya kadang-kadang sering merangkap sebagai manajer yang sebenarnya. Konsep kepemimpinan formal dan informal penekanan perbedaannya terdapat pada pelaksanaan tugas dimana kepemimpinan formal memiliki aturan-aturan yang menjadi batasan pelaksanaan perannya sedangkan pada kepemimpinan nonformal tidak memiliki batasan dalam perannya.
Kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi orang lain. Soekanto (1990) menjelaskan kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan sesaorang untuk mempengaruhi orang lain atau yang dipimpin atau sebagai pengikutnya. Umstot (1988) mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan. Konsep kepemimpinan dan kekuasaan berhubungan dekat, karena baik kekuasaan maupun kepemimpinan fokus pada kemampuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan mempengaruhi orang lain. Dengan adanya pemimpin diharapkan orang lain dapat bertingkah laku sesuai dengan kehendak dari pemimpinnya tersebut. Kepemimpinan merupakan suatu hasil organisasi social yang telah terbentuk atau sebagai dinamika interaksi social.  Dalam kedudukan kepe-mimpinan merupakan suatu kompleksitas dari hak dan kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang sedangkan proses social pemimpin merupakan segala tindakan yang dilakukan seseorang yang dapat menye-babkan gerak pada anggota yang di-pimpinnya.
Munculnya seorang pemimpin merupakan hal yang mutlak dalam suatu kelompok karena dengan adanya pemimpin yang memiliki kekuasaan, dapat mengatasi ancaman-ancaman dari luar yang mereka hadapi dan menentukan langkah-langkah yang harus diambil untuk pencapaian tujuan kelompok. Dalam suatu kelompok, munculnya pemimpin merupakan hasil dari proses-proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan kelompok. Seseorang yang dapat memfasilitasi orang-orang dalam kelompok untuk dapat memenuhi kebutuhannya maka akan dapat mudah untuk dipilih menjadi seorang pemimpin.


Pembahasan
1.      Peran Kelompok Tani Bangun Karyo
Kelompok tani bangun karyo merupakan salah satu kelompok tani yang terdapat pada daerah kabupaten Kulonprogo, kecamatan Prajatan Desa Garongan dengan komoditi unggulan adalah cabai. Dengan memiliki jumlah anggota sebanyak 116 orang semenjak berdirinya dari tahun 1985.  Pembentukan kelompok tani Bangun Karyo memiliki tujuan untuk dapat memfasilitasi para petani cabai di desa garongan dalam menanam cabai dan dapat memasarkan hasil pertanian dengan harga yang sesuai, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Jhonson (2000) menjelaskan bahwa Kelompok terbentuk karena adanya dua orang atau lebih yang memiliki kontak untuk mencapai tujuan sehingga kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan kelompok adalah suatu keadaan di masa mendatang yang diinginkan oleh anggota kelompok. Sehingga dapat dikatakan pembentukan kelompok tani Bangun Karyo merupakan wadah untuk menjadi tempat pemenuhan kebutuhan anggota kelompoknya.
keinginan untuk mendapatkan kepu-asan dari terpenuhinya kebutuhan dapat merupakan motivasi yang kuat dalam pembentukan kelompok tani Bangun Karyo. Sesuai dengan salah satu anggota kelompok tani bangun Karyo yang menjelaskan bahwa dengan bergabunganya pada kelompok dapat mendapatkan jaminan harga hasil pertaniannya dan jaminan keamanan dalam bekerja sehingga dapat dengan nyaman untuk bekerja atau bertani. (et al, 1987) menjelaskan bahwa salah satu orang membentuk kelompok karena adanya pemuasan kebutuhan (the satisfaction of needs) yang merupakan hasrat untuk mendapatkan kepuasan dari terpenuhinya kebutuhan dapat merupakan daya motivasi yang kuat dalam pembentukan kelompok khususnya kebutuhan akan keamanan, social, penghargaan, dan realisasi diri yang dapat dipuaskan dengan bergambung dalam kelompok.
Dalam kelompok tani Bangun Karyo, seperti pada kelompok lainnya, memiliki struktur organisasi atau kelompok untuk dapat menjalankan roda organisasi dengan baik. Dengan adanya struktur organisasi dapat memudahkan tercapainya tujuan kelompok karena dengan adanya struktur keorganisasian dalam kelompok, dapat mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam beberapa cara sesuai dengan kesepatan para anggota kelompoknya. Pak Sudiro selaku ketua kelompok dalam kelompok tani Bangun Karyo melakukan pembagian kerja melalui pembentukan struktur keorganisasian sesuai dengan kebutuhan kelompok. Dengan membagi kerja pada kelompok tani Bangun Karyo antara lain sebagai bendahara, tim pasar lelang cabai, dan pencari informasi terbaru baik yang meliputi harga maupun inovasi terbaru dalam proses penanaman komoditas cabai, Kelompok tani Bangun Karyo bekerja secara efesien dan tidak saling tumpah tindih dalam menjalankan aktivitas kelompok dan dapat mengikuti perkembangan yang ada. Hutton (et al ,1987) menguraikan bahwa struktur suatu organisasi dapat diuraikan dengan sejumlah karakteristik, sehingga karakteristik tidak hanya menguraikan organisasi, tetapi juga mempunyai imlikasi terhadap perilaku orang dan kelompok maupun organisasi itu sendiri dan diharapkan dapat mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri, fleksibilitas, pertumbuhan dan perkem-bangan.
Budaya organisasi adalah satu wujud anggapan yang dimiliki, diterima secara implisit oleh kelompok dan menentukan bagaimana kelompok tersebut merasakan, memikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungan kerjanya. Kreitner (2005), mendefenisikan karakteristik budaya organisasi yang penting ada tiga hal yaitu , (i) budaya organisasi diberikan kepada karyawan baru melalui proses sosialisasi, (ii) budaya organisasi mempengaruhi perilaku anggotanya pada tempat kerja, dan (iii) budaya organisasi berlaku pada dua tingkat yang berbeda dan bervariasi dalam kaitannya dengan pandangan ke luar dan kemampuan bertahan terhadap perubahan. Dalam kelompok tani Bangun Karyo juga dapat ditemukan budaya organisasi yang dijalankan oleh para anggotanya. Seperti cara pola penanaman bahwa tiap anggota kelompok untuk melakukan penanaman harus pada waktu yang sama sehingga dapat menghindari hama penyakit yang dapat menyerang dan berbeda untuk tiap desa sehingga diharapkan pada saat panen tidak menumpuk dan harga dapat bersaing dengan yang lainnya, biasa rentang waktu pada tiap desa adalah 15 hari. Dalam proses pemasaran komoditas cabai, budaya organisasi yang tercipta dalam kelompok tani Bangun Karyo mewajibkan kepada para anggotanya untuk semua menjual hasil panennya pada pasar lelang yang harga telah ditetapkan sehingga tidak ada anggota kelompok yang berani untuk menjual di luar dari pasar lelang. Karena dengan keyakinan yang dimiliki oleh para anggotanya untuk mempercayai apa yang telah ditetapkan oleh kelompok merupakan untuk pemenuhan tujuan bersama. (et al, 2005) menjelaskan bahwa nilai-nilai dan keyakinan organisasi merupakan dasar budaya organisasi, dan keduanya juga memainkan peranan penting dalam mempengaruhi etika berperilaku sehinga nilai adalah konsep kepercayaan mengenai perilaku yang dikehendaki dan keadaan yang sangat penting.
2.      Peran Kepemimpinan Dalam Kelompok Tani Bangun karyo
Setiap terbentuknya suatu kelompok akan memiliki orang yang diikuti dan orang yang mengikuti. Dari awal terbentuknya suatu kelompok, seseorang atau beberapa orang diantara para anggota kelompok melakukan peranan yang lebih aktif dari pada rekan-rekannya, sehingga akan muncul sosok yang lebih menonjol dalam kelompok tersebut. Adanya perbedaan-perbedaan perilaku dalam interaksi pada anggota kelompok tersebut menggambarkan bahwa seseorang selalu dalam keadaan yang berbeda dimana antar manusia satu dengan manusia lainnya selalu terdapat variasi, baik itu perbedaan yang dibawa sejak lahir maupun merupakan pengaruh dari factor lingkungan. Suprayogo (1988) menjelaskan bahwa adanya diferensiasi dalam satu persekutuan masyarakat itulah yang sebenarnya mengakibatkan munculnya beberapa pihak dianggap sebagai pemuka dan sebaliknya yang lain sebagai pengikutnya karena adanya perbedaan-perbedaan baik dari segi kemampuan fisik, pengetahuan, pengalaman, intelektual maupun lainnya maka pihak yang berada pada status yang lemah memberikan hormat dan mengikuti mereka yang berada pada status yang kuat.
Dalam kelompok tani Bangun karyo factor kepemimpinan merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam perkembangan dan bertahannya kelompok Tani Bangun Karyo sampai sekarang. Semenjak kelompok tani ini dibentuk, jabatan ketua kelompok diamanahkan oleh Pak Sudiro. Pak Sudiro sebagai ketua kelompok merupakan kesepakatan dari para anggotanya untuk menunjuk beliau sebagai ketua kelompok. Dengan bekal semangat dan pengetahuan dalam bidang pertanian yang lebih unggul dari anggota lainnya, Pak Sudiro mengemban amanah sebagai ketua kelompok untuk dapat memajukan kelompok dan mempertahankan kelompok Tani Bangun Karyo untuk dapat terus bertahan. (et al, 1988) menjelaskan bahwa kekuasaan seseorang pemimpin dapat berasal dari expert (keahlian) yang lebih unggul dari orang lain sehingga dapat mempengaruhi orang lain dengan keunggulan keahlian tersebut. Dengan ketekunan dalam mengemban amanah sebagai ketua kelompok, Pak Sudiro sangat aktif dalam mencari informasi-informasi terbaru baik yang bersifat inovasi maupun harga-harga yang sedang ditetapkan saat sekarang yang kemudian dapat disampaikan kepada anggotanya untuk dapat mencoba dan menerapkan informasi tersebut sehingga pak Sudiro dapat menjadi pemimpin yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya dalam situasi apapun. (et al, 1987) menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan yang paling baik adalah dapat efektif pada semua situasi, karena kepemimpinan yang efektif dalam situasi yang satu mungkin tidak dapat diterapkan pada situasi yang lain sehingga dapat merubah gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dialami.
Untuk melihat kefektifan kepemimpinan Pak Sudiro dalam Kelompok Tani Bangun Karyo, akan menggunakan model Jalan Tujuan (Path-Goal Model). Menurut model ini, para pemimpin menjadi efektif karena mereka dapat mempengaruhi motivasi para pengikutnya, kemampuan mereka untuk bekerja, dan pemenuhan kepuasan mereka serta memusatkan perhatian pada cara pemimpin untuk mempengaruhi persepsi pengikut tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri sendiri, dan jalan untuk mencapai tujuan (et al, 1987).
a.      Pemimpin yang Mengarahkan (Directive Leader)
Dalam kelompok Tani Bangun Karyo, proses transfer informasi untuk tujuan pengembangan kelompok merupakan tugas dari seluruh anggota kelompok untuk dapat mencari informasi terbaru. Pak Sudiro sebagai ketua kelompok Tani Bangun Karyo sangat giat untuk dapat mencari informasi-informasi terbaru dan inovasi dalam proses penanaman yang kemudian disampaikan kepada anggota. Bukan hanya mencari informasi saja pada inovasi pertanian saja, tetapi Pak Sudiro juga selalu mencari informasi dari pasar lelang untuk penetapan harga terbaru sehingga dapat membimbing para anggotanya untuk mencoba mengikui perkembangan yang ada dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehingga hasil yang didapatkan dapat memenuhi tujuan kelompok itu sendiri dan tujuan anggotanya pada khususnya. Dengan perilaku kepe-mimpinan seperti Pak Sudiro, dapat memotivasi para anggotanya untuk mencapai hasil karya yang lebih efektif.
b.      Pemimpin yang Mendukung (Supporive Leader)
Keberlanjutan dalam suatu Kelom-pok merupakan hasil yang ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan yang secara rata seluruh para anggotanya. Dalam Kelompok Tani Bangun Karyo, Pak Sudiro selaku ketua kelompok, selalu mencoba untuk dapat menampung seluruh aspirasi para anggotanya. Seperti misalnya salah satu anggota kelompok yang ingin menjual hasil panen cabainya kepada para pedagang pengumpul di luar system pasar lelang, dapat diperbolehkan dengan suatu alasan tertentu, misalnya anggota kelompok memiliki utang pada pedagang pengumpul atau sangat membutuhkan uang pada saat itu. Dengan mempertimbangkan kekha-watiran para anggotanya untuk menerima inovasi-inovasi baru, Pak Sudiro selaku ketua kelompok merelakan dirinya untuk mencoba pertama ataupun menerapkan pertama inovasi tersebut sehingga apabila dianggap menguntungkan disampaikan kepada para anggotanya dan apabila tidak menguntungkan atau tidak membawa efek perubahan bagi kondisi anggota kelompok, akan langsung ditinggalkan. Seorang pemimpin di tengah-tengah dapat mengikuti kehendak yang dibentuk anggotanya, sehingga ia dapat mengamati jalannya anggotanya dan dapat merasakan suka dukanya, serta dari anggotanya dia dapat merumuskan perasaan-perasaan serta keinginan - keinginan ang-gotanya untuk dapat memperbaiki keadaanya yang kurang menguntungkan (et al 1990).
c.       Pemimpin yang Partisipatif (Partisipative Leader)
Pelaksanaan kegiatan Kelompok Tani Bangun Karyo merupakan hasil dari kesepakatan yang di bangun oleh para anggota untuk dapat mencapai tujuan kelompok. Dalam kelompok Tani Bangun Karyo, setiap keputusan yang diambil oleh Pak Sudiro selaku ketua kelompok merupakan hasil rundingan dari seluruh anggota kelompok. Dalam penentuan waktu tanggal penanaman pertama, merupakan keputusan bersama dari seluruh anggota kelompok. Dengan meminta pendapat atau saran dari para anggotanya dalam penentuan waktu penanaman pertama, Pak sudiro dapat mengetahui segala kesiapan anggotanya dalam melakukan penanaman dan hasil yang didapatkan tidak akan jauh berbeda dari tiap anggota kelompok. Kesepakatan norma ataupun aturan yang berlaku dalam kelompok adalah kesepakatan dari para anggotanya sehingga anggotanya dapat secara tidak langsung merasa memiliki tanggung jawab yang tinggi untuk melaksanakan aturan yang telah mereka buat bersama. Dalam hal penerimaan suatu inovasi terbaru yang disampaikan oleh baik penyuluh pemerintah maupun salah satu perusahaan yang ingin mempromosikan produknya seperti pupuk, Pak Sudiro selaku ketua kelompok menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada para anggotanya untuk ingin mencoba atau menggunakan inovasi tersebut tanpa ada pemaksaan yang dapat menguntungkan satu pihak. Perilaku kepemimpinan Pak Sudiro dapat member motivasi kepada anggotanya untuk menanggulangi ketidakpastian lingkungan yang dihadapinya. Seorang pemimpin yang mampu mengurangi ketidakpastian pekerjaan dianggap sebagai seorang motivator karena ia meningkatkan harapan bawahan bahwa usaha mereka akan mendapat imbalan yang diinginkan (et al, 1987).
d.      Pemimpin yang Berorientasi Pada Prestasi (Achievement Oriented Leader)
Ketertarikan seseorang untuk bergabung pada suatu kelompok karena kelompok tersebut dapat memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan untuk dapat mencapai tujuan seseorang tersebut sehingga bisa membuat hidupnya menjadi lebih baik. Kelompok Tani Bangun Karyo dengan  berusaha untuk membuat anggotanya dapat lebih meningkatkan hasil panennya dan mendapatkan lebih banyak keuntungan, menyebabkan para anggotanya untuk tetap bertahan pada kelompok dan tidak berpikir untuk beralih pada kelompok lain.  Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, Pak Sudiro ketua kelompok Tani Bangun Karyo selalu menetapkan target yang harus dicapai oleh para anggotanya dalam jumlah hasil dan kualitas yang dihasilkan dari panen para anggotanya. Untuk lebih memudahkan para anggotanya dalam mempersiapkan alat dan bahan yang baik untuk penanaman, Pak Sudiro mengsiasatinya dengan membuka tabungan kelompok pada salah satu lembaga keuangan daerah yang dipotong dari hasil panen dengan system apabila harga komoditas di atas sepuluh ribu maka dipotong 300 rupiah, apabila diantara 5.000 – 10.000, maka yang di potong adalah 200 rupiah dan apabila di bawah 5000 rupiah maka di potong 100 rupiah yang beliau istilahkan sebagai simpanan hasil panen. Dengan system ini, maka para anggotanya tidak memikirkan lagi untuk mencari modal awal dalam proses penanaman sehingga hasil panen seutuhnya berfungsi untuk peningkatan kesejahteraan dan kualitas anggotanya. Pak Sudiro selaku ketua kelompok juga selalu mencari informasi jenis komoditas cabai yang memiliki harga tinggi sehingga para anggotanya dapat mengikuti perkembangan harga tersebut dan menyebabkan hasil panen dari kelompok Tani Bangun karyo selalu dapat bersaing dalam harga tidak dapat tertipu oleh para oknum-oknum pedagang pengumpul yang nakal. Dengan membuat model penjualan secara lelang (pasar lelang), Pak Sudiro selalu mempromosikan hasil komoditas kelompoknya kepada para pedagang-pedagang pengumpul baik di daerah Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa dengan mengharapkan hasil panen yang didapatkan oleh para anggotanya dapat dikenal dan permintaan komoditas semakin tinggi sehingga para anggotanya dapat juga mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Ordways Tead dalam bukunya The Art Of Leadership menjelaskan bahwa penyebab munculnya seorang menjadi pemimpin salah satunya adalah dipilih karena golongan, yakni ia menjadi pemimpin karena jasa-jasanya, kecakapannya, keberaniannya, dan rela berkorban terhadap organisasi (et al, 1982).


Penutup
Manusia sebagai makhluk social yang selalu berinteraksi dengan manusia lainnya untuk dapat memenuhi kebutuhannya dengan salah satu cara bergabung pada suatu kelompok. Dalam suatu kelompok selalu terdapat unsur pemimpin dan orang yang dipimpin. Dalam kelompok  Tani Bangun Karyo, Pak Sudiro selaku ketua kelompok semenjak terbentuknya kelompok tersebut pada tahun 1985 sampai sekarang telah menjadi seorang pemimpin yang dapat dikatakan berhasil untuk meningkatkan kualitas hidup para anggotanya. Dengan kemauan yang tinggi, menggunakan kemampuannya baik dalam segi materi maupun non materi serta berjuang secara ikhlas dalam membangun kelompok Tani Bangun Karyo merupakan modal yang di miliki oleh Pak Sudiro untuk tetap mempertahakan keberadaan Kelompok Tani Bangun Karyo sampai sekarang. Sebagai ketua kelompok yang dapat berada pada situasi apapun yang dipengaruhi oleh ketidak pastian lingkungan dan keterbatasan dana Pak Sudiro selalu dapat mengarahkan anggotanya untuk menanam dengan baik, mendukung perilaku para anggotanya yang ingin membangun keberhasilan kelompok, selalu meminta saran dan berunding pada anggota kelompok dalam pengambilan keputusan, serta berorientasi pada prestasi yang paling tinggi untuk dicapai dan terus menerus mencari peningkatan hasil karya dari anggotanya sehingga anggotanya dengan sendiri dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraannya menjadi lebih baik. Dengan perilaku pemimpin yang dapat diterima dan memuaskan para anggotanya dan memotivasi untuk terus berkarya pada hasil yang efektif, Pak Sudiro selaku ketua elompok pada Kelompok Tani Bangun Karyo merupakan sosok yang penting  dan terpercaya dalam kelompok dan belum ada yang dapat menggantikan sosok beliau tersebut. 
Rujukan

David W. Johnson and Frank P. Johnson, 2000. Joining Together. Group Theory and Group Skills. Seven Edition. Allyn and Bacon. Boston.

Gibson, James L., John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Jr, 1987. Organisasi dan Manajemen, Perilaku struktur, Proses. Edisi Keempat. Diterjermahkan Oleh Djoerban Wahid SH. Jakarta: Erlangga

Kreiner, Robert dan Kinicki Angelo. 2005. Perilaku organisasi. Edisi  Kelima. Diterjehmahkan oleh Erly Suandy. Jakarta: Salemba Empat

Suprayogo, Imam. 1982. “Patron-Klien Dalam Kepemimpinan”. Dalam Seluk Beluk Perubahan Sosial. Surabaya: Usaha Nasional

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Edisi Keempat. Jakarta : Rajawali Press
Umstot, Denis D.,1988. Understanding Organizational Behaviour. Second Edition. West Publishing Company. St Paul.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar