PERAN KEPEMIMPINAN
DALAM KELOMPOK TANI BANGUN KARYO
Muhammad
Dalvi Mustafa
ABSTRAK
Kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi orang yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya sehingga orang
lain dapat bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Pada
dasarnya masing-masing dari berbagai organisasi/kelompok pasti ada yang menjadi
salah seorang pemimpin atau berbagai istilah lain yang sangat populer terhadap
masyarakat itu sendiri. Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu
proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok. Sejak mula
terbentuknya suatu kelompok social, seseorang atau beberapa orang di antara
anggota kelompok melakukan peranan yang lebih aktif dari anggota kelompok
lainnya sehingga orang tersebut lebih menonjol dari anggota lainnya. Dalam
kelompok Tani Bangun Karyo, Pak Sudiro selaku ketua kelompok, merupakan
pemimpin yang dapat berada pada situasi
apapun yang dipengaruhi oleh ketidak pastian lingkungan dan keterbatasan dana
Pak Sudiro selalu dapat mengarahkan anggotanya untuk menanam dengan baik,
mendukung perilaku para anggotanya yang ingin membangun keberhasilan kelompok,
selalu meminta saran dan berunding pada anggota kelompok dalam pengambilan
keputusan, serta berorientasi pada prestasi yang paling tinggi untuk dicapai
dan terus menerus mencari peningkatan hasil karya dari anggotanya sehingga
anggotanya dengan sendiri dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraannya
menjadi lebih baik.
Kata Kunci : Kepemimpinan, Mengarahkan, Mendukung, Partisipatif,
Orientasi Prestasi
Pendahuluan
Dalam suatu kelompok atau masyarakat selalu terdapat seorang
pemimpin dan anggota yang dipimpin. Proses interaksi social yang terjadi dalam
suatu kelompok atau masyarakat, akan mengarahkan pada perkenalan tiap individu
yang kemudian dapat memunculkan pemimpin yang berdasarkan pada kemampuan yang
mereka miliki. Mencari pengertian yang tepat tentang istilah kepemimpinan
sebagai terjemahan dari kata “leadership”
sering kali terjebak pada kata manajer, pejabat dan beberapa kata lainnya yang
memiliki makna hampir mirip dengan kepemimpinan karena semua menunjuk pada
pengertian status seseorang dalam kaitannya dengan masyarakat lainnya yang
dibawahinya. Dalam kehidupan berma-syarakat, terdapat berbagai macam organisasi
atau kelompok. Masing-masing organisasi memiliki jenis kepemimpinan
sendiri-sendiri yang antara satu dan lainnya memiliki dan menuntut pola kepemimpinan
yang berlainan, tergantung kepada situasi dan kondisi masyarakat yang
dipimpinnya. Gibson (1987, 259)
menjelaskan bahwa konsep kepemimpinan adalah lebih sempit dari manajemen atau
manajer dimana manajer digunakan dalam organisasi formal yang bertanggungjawab
dan dipercaya untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan pemimpin di
organisasi informal tidak selalu melaksanakan fungsi manajemen sehingga pemimpin
hanya kadang-kadang sering merangkap sebagai manajer yang sebenarnya. Konsep
kepemimpinan formal dan informal penekanan perbedaannya terdapat pada
pelaksanaan tugas dimana kepemimpinan formal memiliki aturan-aturan yang
menjadi batasan pelaksanaan perannya sedangkan pada kepemimpinan nonformal
tidak memiliki batasan dalam perannya.
Kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi orang lain.
Soekanto (1990) menjelaskan kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan sesaorang untuk mempengaruhi orang lain
atau yang dipimpin atau sebagai pengikutnya. Umstot (1988)
mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk
mencapai tujuan. Konsep kepemimpinan dan kekuasaan berhubungan dekat, karena
baik kekuasaan maupun kepemimpinan fokus pada kemampuan untuk mencapai tujuan
tertentu dengan mempengaruhi orang lain. Dengan
adanya pemimpin diharapkan orang lain dapat bertingkah laku sesuai dengan
kehendak dari pemimpinnya tersebut. Kepemimpinan merupakan suatu hasil
organisasi social yang telah terbentuk atau sebagai dinamika interaksi social. Dalam kedudukan kepe-mimpinan merupakan suatu
kompleksitas dari hak dan kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang
sedangkan proses social pemimpin merupakan segala tindakan yang dilakukan
seseorang yang dapat menye-babkan gerak pada anggota yang di-pimpinnya.
Munculnya seorang pemimpin merupakan hal yang mutlak dalam suatu
kelompok karena dengan adanya pemimpin yang memiliki kekuasaan, dapat mengatasi
ancaman-ancaman dari luar yang mereka hadapi dan menentukan langkah-langkah
yang harus diambil untuk pencapaian tujuan kelompok. Dalam suatu kelompok,
munculnya pemimpin merupakan hasil dari proses-proses dinamis yang sesuai
dengan kebutuhan kelompok. Seseorang yang dapat memfasilitasi orang-orang dalam
kelompok untuk dapat memenuhi kebutuhannya maka akan dapat mudah untuk dipilih
menjadi seorang pemimpin.
Pembahasan
1.
Peran Kelompok Tani Bangun Karyo
Kelompok tani bangun karyo merupakan salah satu kelompok tani yang
terdapat pada daerah kabupaten Kulonprogo, kecamatan Prajatan Desa Garongan
dengan komoditi unggulan adalah cabai. Dengan memiliki jumlah anggota sebanyak
116 orang semenjak berdirinya dari tahun 1985. Pembentukan kelompok tani Bangun Karyo
memiliki tujuan untuk dapat memfasilitasi para petani cabai di desa garongan
dalam menanam cabai dan dapat memasarkan hasil pertanian dengan harga yang
sesuai, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Jhonson
(2000) menjelaskan bahwa Kelompok
terbentuk karena adanya dua orang atau lebih yang memiliki kontak untuk
mencapai tujuan sehingga kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan
kelompok adalah suatu keadaan di masa mendatang yang diinginkan oleh anggota
kelompok. Sehingga dapat dikatakan pembentukan kelompok tani Bangun Karyo
merupakan wadah untuk menjadi tempat pemenuhan kebutuhan anggota kelompoknya.
keinginan untuk mendapatkan kepu-asan dari
terpenuhinya kebutuhan dapat merupakan motivasi yang kuat dalam pembentukan
kelompok tani Bangun Karyo. Sesuai dengan salah satu anggota kelompok tani
bangun Karyo yang menjelaskan bahwa dengan bergabunganya pada kelompok dapat
mendapatkan jaminan harga hasil pertaniannya dan jaminan keamanan dalam bekerja
sehingga dapat dengan nyaman untuk bekerja atau bertani. (et al, 1987)
menjelaskan bahwa salah satu orang membentuk kelompok karena adanya pemuasan
kebutuhan (the satisfaction of needs)
yang merupakan hasrat untuk mendapatkan kepuasan dari terpenuhinya kebutuhan
dapat merupakan daya motivasi yang kuat dalam pembentukan kelompok khususnya
kebutuhan akan keamanan, social, penghargaan, dan realisasi diri yang dapat
dipuaskan dengan bergambung dalam kelompok.
Dalam kelompok tani Bangun Karyo, seperti pada kelompok lainnya,
memiliki struktur organisasi atau kelompok untuk dapat menjalankan roda
organisasi dengan baik. Dengan adanya struktur organisasi dapat memudahkan tercapainya
tujuan kelompok karena dengan adanya struktur keorganisasian dalam kelompok,
dapat mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam beberapa cara sesuai
dengan kesepatan para anggota kelompoknya. Pak Sudiro selaku ketua kelompok
dalam kelompok tani Bangun Karyo melakukan pembagian kerja melalui pembentukan
struktur keorganisasian sesuai dengan kebutuhan kelompok. Dengan membagi kerja
pada kelompok tani Bangun Karyo antara lain sebagai bendahara, tim pasar lelang
cabai, dan pencari informasi terbaru baik yang meliputi harga maupun inovasi
terbaru dalam proses penanaman komoditas cabai, Kelompok tani Bangun Karyo
bekerja secara efesien dan tidak saling tumpah tindih dalam menjalankan
aktivitas kelompok dan dapat mengikuti perkembangan yang ada. Hutton (et al
,1987) menguraikan bahwa struktur suatu organisasi dapat diuraikan dengan
sejumlah karakteristik, sehingga karakteristik tidak hanya menguraikan
organisasi, tetapi juga mempunyai imlikasi terhadap perilaku orang dan kelompok
maupun organisasi itu sendiri dan diharapkan dapat mempunyai kemampuan untuk
menyesuaikan diri, fleksibilitas, pertumbuhan dan perkem-bangan.
Budaya organisasi adalah satu wujud anggapan yang dimiliki,
diterima secara implisit oleh kelompok dan menentukan bagaimana kelompok tersebut
merasakan, memikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungan kerjanya. Kreitner
(2005), mendefenisikan karakteristik budaya organisasi yang penting ada tiga
hal yaitu , (i) budaya organisasi diberikan kepada karyawan baru melalui proses
sosialisasi, (ii) budaya organisasi mempengaruhi perilaku anggotanya pada
tempat kerja, dan (iii) budaya organisasi berlaku pada dua tingkat yang berbeda
dan bervariasi dalam kaitannya dengan pandangan ke luar dan kemampuan bertahan
terhadap perubahan. Dalam kelompok tani Bangun Karyo juga dapat ditemukan
budaya organisasi yang dijalankan oleh para anggotanya. Seperti cara pola
penanaman bahwa tiap anggota kelompok untuk melakukan penanaman harus pada
waktu yang sama sehingga dapat menghindari hama penyakit yang dapat menyerang
dan berbeda untuk tiap desa sehingga diharapkan pada saat panen tidak menumpuk
dan harga dapat bersaing dengan yang lainnya, biasa rentang waktu pada tiap
desa adalah 15 hari. Dalam proses pemasaran komoditas cabai, budaya organisasi
yang tercipta dalam kelompok tani Bangun Karyo mewajibkan kepada para
anggotanya untuk semua menjual hasil panennya pada pasar lelang yang harga
telah ditetapkan sehingga tidak ada anggota kelompok yang berani untuk menjual di
luar dari pasar lelang. Karena dengan keyakinan yang dimiliki oleh para
anggotanya untuk mempercayai apa yang telah ditetapkan oleh kelompok merupakan
untuk pemenuhan tujuan bersama. (et al, 2005) menjelaskan bahwa nilai-nilai dan
keyakinan organisasi merupakan dasar budaya organisasi, dan keduanya juga
memainkan peranan penting dalam mempengaruhi etika berperilaku sehinga nilai
adalah konsep kepercayaan mengenai perilaku yang dikehendaki dan keadaan yang
sangat penting.
2.
Peran Kepemimpinan Dalam Kelompok Tani Bangun karyo
Setiap terbentuknya suatu kelompok akan memiliki orang yang diikuti
dan orang yang mengikuti. Dari awal terbentuknya suatu kelompok, seseorang atau
beberapa orang diantara para anggota kelompok melakukan peranan yang lebih
aktif dari pada rekan-rekannya, sehingga akan muncul sosok yang lebih menonjol
dalam kelompok tersebut. Adanya perbedaan-perbedaan perilaku dalam interaksi
pada anggota kelompok tersebut menggambarkan bahwa seseorang selalu dalam
keadaan yang berbeda dimana antar manusia satu dengan manusia lainnya selalu
terdapat variasi, baik itu perbedaan yang dibawa sejak lahir maupun merupakan
pengaruh dari factor lingkungan. Suprayogo (1988) menjelaskan bahwa adanya
diferensiasi dalam satu persekutuan masyarakat itulah yang sebenarnya
mengakibatkan munculnya beberapa pihak dianggap sebagai pemuka dan sebaliknya
yang lain sebagai pengikutnya karena adanya perbedaan-perbedaan baik dari segi
kemampuan fisik, pengetahuan, pengalaman, intelektual maupun lainnya maka pihak
yang berada pada status yang lemah memberikan hormat dan mengikuti mereka yang
berada pada status yang kuat.
Dalam kelompok tani Bangun karyo factor kepemimpinan merupakan
salah satu factor yang sangat penting dalam perkembangan dan bertahannya
kelompok Tani Bangun Karyo sampai sekarang. Semenjak kelompok tani ini
dibentuk, jabatan ketua kelompok diamanahkan oleh Pak Sudiro. Pak Sudiro
sebagai ketua kelompok merupakan kesepakatan dari para anggotanya untuk
menunjuk beliau sebagai ketua kelompok. Dengan bekal semangat dan pengetahuan
dalam bidang pertanian yang lebih unggul dari anggota lainnya, Pak Sudiro
mengemban amanah sebagai ketua kelompok untuk dapat memajukan kelompok dan
mempertahankan kelompok Tani Bangun Karyo untuk dapat terus bertahan. (et al,
1988) menjelaskan bahwa kekuasaan seseorang pemimpin dapat berasal dari expert (keahlian) yang lebih unggul dari
orang lain sehingga dapat mempengaruhi orang lain dengan keunggulan keahlian
tersebut. Dengan ketekunan dalam mengemban amanah sebagai ketua kelompok, Pak
Sudiro sangat aktif dalam mencari informasi-informasi terbaru baik yang
bersifat inovasi maupun harga-harga yang sedang ditetapkan saat sekarang yang
kemudian dapat disampaikan kepada anggotanya untuk dapat mencoba dan menerapkan
informasi tersebut sehingga pak Sudiro dapat menjadi pemimpin yang dapat
memenuhi kebutuhan anggotanya dalam situasi apapun. (et al, 1987) menjelaskan
bahwa gaya kepemimpinan yang paling baik adalah dapat efektif pada semua
situasi, karena kepemimpinan yang efektif dalam situasi yang satu mungkin tidak
dapat diterapkan pada situasi yang lain sehingga dapat merubah gaya
kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dialami.
Untuk melihat kefektifan kepemimpinan Pak Sudiro dalam Kelompok
Tani Bangun Karyo, akan menggunakan model Jalan Tujuan (Path-Goal Model). Menurut model ini, para pemimpin menjadi efektif
karena mereka dapat mempengaruhi motivasi para pengikutnya, kemampuan mereka
untuk bekerja, dan pemenuhan kepuasan mereka serta memusatkan perhatian pada
cara pemimpin untuk mempengaruhi persepsi pengikut tentang tujuan pekerjaan,
tujuan pengembangan diri sendiri, dan jalan untuk mencapai tujuan (et al,
1987).
a.
Pemimpin yang Mengarahkan (Directive
Leader)
Dalam kelompok Tani Bangun Karyo, proses transfer informasi untuk
tujuan pengembangan kelompok merupakan tugas dari seluruh anggota kelompok
untuk dapat mencari informasi terbaru. Pak Sudiro sebagai ketua kelompok Tani
Bangun Karyo sangat giat untuk dapat mencari informasi-informasi terbaru dan
inovasi dalam proses penanaman yang kemudian disampaikan kepada anggota. Bukan
hanya mencari informasi saja pada inovasi pertanian saja, tetapi Pak Sudiro
juga selalu mencari informasi dari pasar lelang untuk penetapan harga terbaru
sehingga dapat membimbing para anggotanya untuk mencoba mengikui perkembangan
yang ada dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehingga hasil yang didapatkan
dapat memenuhi tujuan kelompok itu sendiri dan tujuan anggotanya pada
khususnya. Dengan perilaku kepe-mimpinan seperti Pak Sudiro, dapat memotivasi
para anggotanya untuk mencapai hasil karya yang lebih efektif.
b.
Pemimpin yang Mendukung (Supporive
Leader)
Keberlanjutan dalam suatu Kelom-pok merupakan hasil yang ditentukan
oleh pemenuhan kebutuhan yang secara rata seluruh para anggotanya. Dalam
Kelompok Tani Bangun Karyo, Pak Sudiro selaku ketua kelompok, selalu mencoba
untuk dapat menampung seluruh aspirasi para anggotanya. Seperti misalnya salah
satu anggota kelompok yang ingin menjual hasil panen cabainya kepada para
pedagang pengumpul di luar system pasar lelang, dapat diperbolehkan dengan
suatu alasan tertentu, misalnya anggota kelompok memiliki utang pada pedagang
pengumpul atau sangat membutuhkan uang pada saat itu. Dengan mempertimbangkan
kekha-watiran para anggotanya untuk menerima inovasi-inovasi baru, Pak Sudiro
selaku ketua kelompok merelakan dirinya untuk mencoba pertama ataupun
menerapkan pertama inovasi tersebut sehingga apabila dianggap menguntungkan
disampaikan kepada para anggotanya dan apabila tidak menguntungkan atau tidak
membawa efek perubahan bagi kondisi anggota kelompok, akan langsung
ditinggalkan. Seorang pemimpin di tengah-tengah dapat mengikuti kehendak yang
dibentuk anggotanya, sehingga ia dapat mengamati jalannya anggotanya dan dapat
merasakan suka dukanya, serta dari anggotanya dia dapat merumuskan
perasaan-perasaan serta keinginan - keinginan ang-gotanya untuk dapat
memperbaiki keadaanya yang kurang menguntungkan (et al 1990).
c.
Pemimpin yang Partisipatif (Partisipative
Leader)
Pelaksanaan kegiatan Kelompok Tani Bangun Karyo merupakan hasil
dari kesepakatan yang di bangun oleh para anggota untuk dapat mencapai tujuan
kelompok. Dalam kelompok Tani Bangun Karyo, setiap keputusan yang diambil oleh
Pak Sudiro selaku ketua kelompok merupakan hasil rundingan dari seluruh anggota
kelompok. Dalam penentuan waktu tanggal penanaman pertama, merupakan keputusan
bersama dari seluruh anggota kelompok. Dengan meminta pendapat atau saran dari
para anggotanya dalam penentuan waktu penanaman pertama, Pak sudiro dapat
mengetahui segala kesiapan anggotanya dalam melakukan penanaman dan hasil yang
didapatkan tidak akan jauh berbeda dari tiap anggota kelompok. Kesepakatan
norma ataupun aturan yang berlaku dalam kelompok adalah kesepakatan dari para
anggotanya sehingga anggotanya dapat secara tidak langsung merasa memiliki
tanggung jawab yang tinggi untuk melaksanakan aturan yang telah mereka buat
bersama. Dalam hal penerimaan suatu inovasi terbaru yang disampaikan oleh baik
penyuluh pemerintah maupun salah satu perusahaan yang ingin mempromosikan
produknya seperti pupuk, Pak Sudiro selaku ketua kelompok menyerahkan keputusan
sepenuhnya kepada para anggotanya untuk ingin mencoba atau menggunakan inovasi
tersebut tanpa ada pemaksaan yang dapat menguntungkan satu pihak. Perilaku
kepemimpinan Pak Sudiro dapat member motivasi kepada anggotanya untuk
menanggulangi ketidakpastian lingkungan yang dihadapinya. Seorang pemimpin yang
mampu mengurangi ketidakpastian pekerjaan dianggap sebagai seorang motivator
karena ia meningkatkan harapan bawahan bahwa usaha mereka akan mendapat imbalan
yang diinginkan (et al, 1987).
d.
Pemimpin yang Berorientasi Pada Prestasi (Achievement Oriented Leader)
Ketertarikan seseorang untuk bergabung pada suatu kelompok karena
kelompok tersebut dapat memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan untuk dapat mencapai
tujuan seseorang tersebut sehingga bisa membuat hidupnya menjadi lebih baik.
Kelompok Tani Bangun Karyo dengan berusaha
untuk membuat anggotanya dapat lebih meningkatkan hasil panennya dan
mendapatkan lebih banyak keuntungan, menyebabkan para anggotanya untuk tetap
bertahan pada kelompok dan tidak berpikir untuk beralih pada kelompok
lain. Untuk memfasilitasi kebutuhan
tersebut, Pak Sudiro ketua kelompok Tani Bangun Karyo selalu menetapkan target
yang harus dicapai oleh para anggotanya dalam jumlah hasil dan kualitas yang
dihasilkan dari panen para anggotanya. Untuk lebih memudahkan para anggotanya
dalam mempersiapkan alat dan bahan yang baik untuk penanaman, Pak Sudiro
mengsiasatinya dengan membuka tabungan kelompok pada salah satu lembaga
keuangan daerah yang dipotong dari hasil panen dengan system apabila harga
komoditas di atas sepuluh ribu maka dipotong 300 rupiah, apabila diantara 5.000
– 10.000, maka yang di potong adalah 200 rupiah dan apabila di bawah 5000
rupiah maka di potong 100 rupiah yang beliau istilahkan sebagai simpanan hasil
panen. Dengan system ini, maka para anggotanya tidak memikirkan lagi untuk
mencari modal awal dalam proses penanaman sehingga hasil panen seutuhnya berfungsi
untuk peningkatan kesejahteraan dan kualitas anggotanya. Pak Sudiro selaku
ketua kelompok juga selalu mencari informasi jenis komoditas cabai yang
memiliki harga tinggi sehingga para anggotanya dapat mengikuti perkembangan
harga tersebut dan menyebabkan hasil panen dari kelompok Tani Bangun karyo
selalu dapat bersaing dalam harga tidak dapat tertipu oleh para oknum-oknum
pedagang pengumpul yang nakal. Dengan membuat model penjualan secara lelang
(pasar lelang), Pak Sudiro selalu mempromosikan hasil komoditas kelompoknya
kepada para pedagang-pedagang pengumpul baik di daerah Pulau Jawa maupun di
luar Pulau Jawa dengan mengharapkan hasil panen yang didapatkan oleh para
anggotanya dapat dikenal dan permintaan komoditas semakin tinggi sehingga para
anggotanya dapat juga mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Ordways Tead dalam
bukunya The Art Of Leadership
menjelaskan bahwa penyebab munculnya seorang menjadi pemimpin salah satunya
adalah dipilih karena golongan, yakni ia menjadi pemimpin karena jasa-jasanya,
kecakapannya, keberaniannya, dan rela berkorban terhadap organisasi (et al,
1982).
Penutup
Manusia sebagai makhluk social yang selalu
berinteraksi dengan manusia lainnya untuk dapat memenuhi kebutuhannya dengan
salah satu cara bergabung pada suatu kelompok. Dalam suatu kelompok selalu
terdapat unsur pemimpin dan orang yang dipimpin. Dalam kelompok Tani Bangun Karyo, Pak Sudiro selaku ketua
kelompok semenjak terbentuknya kelompok tersebut pada tahun 1985 sampai
sekarang telah menjadi seorang pemimpin yang dapat dikatakan berhasil untuk
meningkatkan kualitas hidup para anggotanya. Dengan kemauan yang tinggi,
menggunakan kemampuannya baik dalam segi materi maupun non materi serta
berjuang secara ikhlas dalam membangun kelompok Tani Bangun Karyo merupakan
modal yang di miliki oleh Pak Sudiro untuk tetap mempertahakan keberadaan
Kelompok Tani Bangun Karyo sampai sekarang. Sebagai ketua kelompok yang dapat
berada pada situasi apapun yang dipengaruhi oleh ketidak pastian lingkungan dan
keterbatasan dana Pak Sudiro selalu dapat mengarahkan anggotanya untuk menanam
dengan baik, mendukung perilaku para anggotanya yang ingin membangun
keberhasilan kelompok, selalu meminta saran dan berunding pada anggota kelompok
dalam pengambilan keputusan, serta berorientasi pada prestasi yang paling
tinggi untuk dicapai dan terus menerus mencari peningkatan hasil karya dari
anggotanya sehingga anggotanya dengan sendiri dapat meningkatkan kualitas dan
kesejahteraannya menjadi lebih baik. Dengan perilaku pemimpin yang dapat
diterima dan memuaskan para anggotanya dan memotivasi untuk terus berkarya pada
hasil yang efektif, Pak Sudiro selaku ketua elompok pada Kelompok Tani Bangun
Karyo merupakan sosok yang penting dan terpercaya
dalam kelompok dan belum ada yang dapat menggantikan sosok beliau
tersebut.
Rujukan
David
W. Johnson and Frank P. Johnson, 2000. Joining
Together. Group Theory and Group Skills. Seven Edition. Allyn and Bacon.
Boston.
Gibson,
James L., John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Jr, 1987. Organisasi dan Manajemen, Perilaku struktur, Proses. Edisi Keempat.
Diterjermahkan Oleh Djoerban Wahid SH. Jakarta: Erlangga
Kreiner,
Robert dan Kinicki Angelo. 2005. Perilaku
organisasi. Edisi Kelima.
Diterjehmahkan oleh Erly Suandy. Jakarta: Salemba Empat
Suprayogo,
Imam. 1982. “Patron-Klien Dalam Kepemimpinan”. Dalam Seluk Beluk Perubahan Sosial. Surabaya: Usaha Nasional
Soekanto,
Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.
Edisi Keempat. Jakarta : Rajawali Press
Umstot,
Denis D.,1988. Understanding
Organizational Behaviour. Second Edition. West Publishing Company. St Paul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar