PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT KELOMPOK TANI BANGUN KARYO
Muhammad
Dalvi Mustafa[1]
ABSTRAK
Konsep pemberdayaan (empowerment) mulai muncul dipermukaan sekitar
decade 1970-an, dan terus berkembang sampai saat ini. Munculnya konsep
pemberdayaan merupakan akibat dari dan reaksi terhadap alam pikiran, tata
masyarakat dan tata budaya sebelumnya yang berkembang dari suatu negara.
Pemberdayaan merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk mendorong dalam
peningkatan kompentensi dan kemampuan suatu masyarakat untuk memanfaatkan
sumberdaya yang tersedia di sekitar mereka dan menjadikannya mandiri. Pengembangan masyarakat local sebagai proses
dalam suatu pemberdayaan masyarakat, yang mengarahkan pada penciptaan kemajuan
social dan ekonomi bagi masyarakat local tersebut melalui partisipasi aktif
serta inisiatif anggota masyarakat local itu sendiri. Kelompok Tani Bangun karyo yang terletak pada Desa Garongan
merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon
Progo yang berada di tepi pantai. Di Desa Garongan, lahan
pasir pantai dalam pengusahaannya menjadi sangat diminati masyarakat untuk
dijadikan sebagai lahan pertanian. Lahan pantai yang ada di Desa Garongan
digunakan untuk budidaya berbagai komoditas pertanian yang dapat dijadikan
alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani, diantaranya cabe merah dan
jeruk siam. Pemberdayaan masyarakat pada kelompok Tani Bangun Karyo dengan
menekakan pada tiga demensi yaitu (i) Akses dengan memberdayakan kemampuan
anggota kelompok tani pada pemberdayaan infomasi dan ekonomi, kemudian (ii)
partisipasi dengan memiliki kekuatan untuk pemberdayaan politik serta dapat
menggerakkan anggota kelompok atau mobilitas social dan (iii) adalah pada
dimensi control dengan pemberdayaan pada sosiopsikologi para anggota
kelompoknya dalam menentukan kebutuhan hidup yang diingikannya.
Kata
Kunci : Pemberdayaan Masyarakat, Informasi, Ekonomi, Sosio Psikologi, Politik,
Mobilitas Sosial
PENDAHULUAN
Konsep pemberdayaan merupakan
salah satu wacana public sekarang ini yang sangat penting dalam mengukur
perkembangan dan keberhasilan pembangunan dalam suatu daerah. Paradigm
pemberdayaaan masyarakat yang mengemuka sebagai isu Sentara pembangunan
merupakan reaksi atas kenyataan munculnya kesenjangan yang belum tuntas
terpecahkan terutama antara masyarakat di pedesaan, kawasan terpencil dan
terbelakang. Suatu ironi yang sangat serius dimana pertumbuhan ekonomi yang
dijelaskan oleh pemerintah selalu mengalami peningkatan terus menerus dan
kondisi masyarakat pedesaan ataupun local tidak mengalami peningkatan. Pemberdayaan
sebagai suatu gerakan yang menekankan kepada kemandirian pada objek masyarakat
langsung dan mendapatkan dukungan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan sering
berkontradiksi dengan kenyataan yang dialami saat sekarang, dimana kebijakan
maupun program pemerintah belum memiliki arah yang tepat sasaran. Pelaksanaan
program-program pemerintah dengan tujuan utama dapat menyentuh masyarakat
langsung tidak dapat terealisasi dengan baik, dengan factor utama karena
masalah maupun metode tidak melihat aspek dari kemampuan dan pengetahuan
masyarakat itu sendiri.
Pemberdayaan
merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk mendorong dalam peningkatan kompentensi
dan kemampuan suatu masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di
sekitar mereka dan menjadikannya mandiri. Jim Ife[2]
menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah empowerment
aims to increase the power of dis-advantaged, yang dapat diartikan bahwa
bagaimana suatu pemberdayaan meningkatkan kekuatan atau kekuasaan suatu
masyarakat. Robert Chambers[3],
seorang ahli yang pemikirannya banyak dituangkan dalam upaya pemberdayaan
masyarakat menjelaskan bahwa konsep pemberdayaan adalah sebuah konsep
pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai social dengan paradigma people centered, participatory, empowering,
and sustainable. Kartasasmita[4]
(1997) menjelaskan bahwa memberdayakan adalah upaya untuk meningkatkan harkat
dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu
melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan sehingga dengan
kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. Konsep
pemberdayaan masyarakat, sebagai suatu proses yang menekankan pada sumber
informasi langsung dari masyarakat baik dari masalah yang dialami maupun teknik
untuk mengatasinya, sehingga pemerintah harus bisa menjadi pendamping bagi
masyarakat untuk menganalisis masalah yang dihadapi, membantu menemukan
alternative solusi masalah tersebut dan dapat menunjukkan serta menciptakan
strategi dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia yang dimiliki oleh
masyarakat tersebut.
Pengembangan
masyarakat local sebagai proses dalam suatu pemberdayaan masyarakat, yang
mengarahkan pada penciptaan kemajuan social dan ekonomi bagi masyarakat local
tersebut melalui partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat local itu
sendiri. Pemberdayaan
harus dapat dimaknai dalam konteks yang menempatkan posisi berdiri masyarakat.
Posisi masyarakat local bukanlah objek penerima manfaat yang tergantung pada
pemberian dari pihak luar seperti pemerintah maupun lembaga non pemerintah,
melainkan dalam posisi sebagai (agen atau partisipan yang bertindak) yang
berbuat secara mandiri dan inisiatif langsug dari masyarakat local tersebut dan
tanpa melepas tanggung jawab dari negara dalam mengawal proses pemberdayaan
masyarakat. Anggota masyarakat dipandang bukan sebagai system klien yang
bermaslah, melainkan sebagai masyarakat yang unik dan memiliki potensi, hanya
saja potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan. Partisipasi masyarakat
dalam pembangunan adalah kerjasama rakyat dan pemerintah dalam merencanakan,
melaksanakan, dan membiayai pembangunan, dan kerjasama ini menuntut hubungan
yang setara antara rakyat dan pemerintah, oleh karena itu rakyat diupayakan
memiliki kapasitas baik secara individu maupun kelembagaan[5].
Konsep trickle down effect yang menjadi konsep pada zaman orde baru dalam
proses pembangunan masyarakat yang bersifat top
down belum bisa dapat dikatakan berhasil untuk menciptakan pemberdayaan
masyarakat Indonesia karena masih banyaknya salah sasaran dalam penerapannya
yang tidak sesuai kebutuhan sesungguhnya dari masyarakat sendiri. Pada zaman
reformasi, konsep pembangunan yang berasal dari bawah (bottom up) dengan melihat secara objektif kebutuhan masyarakat
sehingga dapat langsung merasakan manfaat yang didapatkan oleh masyarakat itu
sendiri. Dalam pengertian luas pemberdayaan masyarakat merupakan proses
memfasilitasi dan mendorong masyarakat agar mampu menjadi pelaku utama dalam
memanfaatkan lingkungan stratergisnya untuk mencapai suatu keberlanjutan[6].
Dengan menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menentukan hidup serta
memanfaatkan sumberdaya yang mereka miliki sehingga dapat memunculkan tanggung
jawab yang tinggi terhadap pelaksanaan pemberdayaan masyarakat local itu
sendiri. Seperti yang terdapat Kelompok tani Bangun Karyo yang merupakan salah
satu kelompok yang terdapat pada Desa Garongan Kecamatan Panjatan Kabupaten
Kulon Progo, yang bergerak pada komoditas cabai pada lahan pasir pantai. Keberadaan
kelompok tani Bangun Karyo sebagai wadah bagi petani cabai pada Desa Garongan
untuk dapat menampung aspirasi dan memfasilitasi para petani bisa menjadi lebih
baik dan dapat menciptakan kemandirian dalam kehidupannya sehingga dapat
meningkatkan kualitas sosialnya dimana kualitas social dapat diartikan sebagai sejauh mana anggota kelompok dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi
dalam masyarakat mereka dalam kondisi yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan potensi
individu mereka.
PEMBAHASAN
Kelompok Tani Bangun karyo yang terletak pada Desa Garongan
merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon
Progo yang berada di tepi pantai. Di Desa Garongan, lahan pasir pantai dalam
pengusahaannya menjadi sangat diminati masyarakat untuk dijadikan sebagai lahan
pertanian. Lahan pantai yang ada di Desa Garongan digunakan untuk budidaya
berbagai komoditas pertanian yang dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan
pendapatan petani, diantaranya cabe merah dan jeruk siam. Kelompok Tani bangun
Karyo dengan memiliki jumlah anggota sebanyak 116 orang dengan komoditas utama
adalah cabai, dapat menghasilkan produk cabai dengan jumlah yang sangat besar
setiap anggotanya dengan jumlah keselurahan dapat mencapai sebesar 14 ton.
Keberhasilan dalam pencapaian yang diraih oleh kelompok tani Bangun Karyo salah
satu factor utamanya adalah dapat menciptakan kemandirian sebagai suatu
kelompok yang mampu bertahan pada ketidakpastian lingkungan dan partisipasi
serta kesadaran yang tinggi dan komitmen untuk maju pada anggota-anggotanya. Korten
menjelaskan bahwa visi pembangunan harus berpusat pada rakyat, dimana dengan
visi berpusat pada rakyat dapat memilih kesejahteraan manusia dan bekerlanjutan
lingkungan hidup di atas penambahan dalam masukan ekonomi dan visi ini
menyambut partisipasi dari masyarakat dalam posisi kekuatan yang mandiri bukan
dengan ketergantungan pada pihak luar[7].
Pemberdayaan masyarakat pada kelompok Tani Bangun Karyo dengan menekakan pada
tiga demensi yaitu (i) Akses dengan memberdayakan kemampuan anggota kelompok
tani pada pemberdayaan infomasi dan ekonomi, kemudian (ii) partisipasi dengan
memiliki kekuatan untuk pemberdayaan politik serta dapat menggerakkan anggota
kelompok atau mobilitas social dan (iii) adalah pada dimensi control dengan
pemberdayaan pada sosiopsikologi para anggota kelompoknya dalam menentukan
kebutuhan hidup yang diingikannya. Model pembangunan yang berpusat kepada
rakyat lebih menekankan pada pemberdayaan yang memandang insiatif-kreatif
rakyat sebagai sumber daya pembangunan yang paling utama dan memandang
kesejahteraan material-spritual rakyat sebagai tuuan yang harus dicapai oleh
proses pembangunan. Kajian strategis pemberdayaan masyarakat, baik ekonomi,
social budaya maupun politik menjadi penting sebagai input untuk reformulasi pembangunan
yang berpusat pada rakyat, dimana reformulasi ini memberikan peluang yang
sangat besar bagi masyarakat untuk membangun secara partisipatif[8].
1.
Pemberdayaan Informasi
Masyarakat
di Indonesia merupakan salah satu masyarakat yang memiliki tingkat homogenitas
yang tinggi dalam berperilaku. Dalam masyarakat local atau pedesaan, rasa
persaudaraan dan solidaritas yang tinggi yang dimiliki dijadikan sebagai kultur
yang menjadi pedoman hidup mereka. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai salah
satu masyarakt yang mempunyai tradisi komunitarian sangat kuat, dimana tradisi
tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk hubungan social yang kuat, seperti
transaksi-transaksi ekonomi akan berjalan dengan lebih efesien jika didukung
dengan hubungan social yang mantap dan kuat. Kelompok Tani Bangun Karyo dengan
memiliki jumlah anggota yang bisa dikatakan cukup banyak yaitu 116 orang, bukan
hal yang mudah untuk dapat memberdayakan seluruh anggotanya. Pelaksanaan
kegiatan kelompok Tani Bangun Karyo yang berdasarkan dari aspirasi anggotanya,
menjadikan kelompok ini harus bergerak dengan cepat dalam memenuhi kebutuhan
anggotanya sehingga keinginan bertahan dalam anggotanya selalu ada.
Dalam
proses pemberdayaan kelompok tani Bangun Karyo pada dimensi akses dimana
terdiri dari kemampuan para anggotanya untuk dapat mengekspresikan dan
menyumbangkan gagasan-gagasan mereka serta bisa dengan mandiri dalam mendapatkan
informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan kelompok pada umumnya dan pada
diri anggota kelompok pada khususnya. Dengan menerapkan keputusan secara
kolektif pada kelompok menyebabkan Kelompok Tani Bangun karyo mampu memancing
para anggotanya untuk dapat memberikan aspirasinya masing-masing dan setiap
anggota diberikan keluasan yang selebar-lebarnya untuk mencari informasi diluar
kelompok yang kemudian dapat dirundingkan dalam kelompok sebagai keputusan
bersama dalam kelompok. Sesuai dengan wawancara ketua Kelompok Tani Bangun
Karyo yaitu Pak Sudiro yang menjelaskan bahwa dalam kelompok segala keputusan
yang diambil merupakan dari kesepatan anggota dari masukan-masukan yang
diberikan oleh anggota tanpa ada sifat pemaksaan dan informasi-informasi untuk
pengembangan kelompok bukan hanya bersumber dari ketua kelompok saja tetapi
merupakan informasi-informasi yang didapatkan oleh anggota lainnya[9]. Musyawarah
adalah salah satu gejala social yang ada dalam banyak masyarakat pedesaan
umumnya dan khususnya di Indonesia, dimana bahwa keputusan-keputusan yang
diambil dalam rapat-rapat tidak berdasarkan suatu mayoritas yang menganut suatu
pendirian tertentu, melainkan seluruh anggota dalam rapat[10].
2.
Pemberdayaan Ekonomi
Dalam memenuhi akses anggota kelompok Tani
Bangun karyo pada system ekonomi pedesaan, anggota kelompok Tani Bangun Karyo
masih sangat bergantung pada Ketua Kelompok. Konsep pemberdayaan ekonomi dengan
tujuan untuk dapat memanfaatkan dan mengelola
mekanisme produksi, distribusi dan pertukaran barang serta jasa, anggota
kelompok Tani Bangun Karyo masih bergantung pada cara kerja kelompok.
Keberanian anggota kelompok untuk dapat keluar dari proses kegiatan ekonomi
yang telah ditetapkan oleh kelompok sangat jarang terjadi, karena ikatan yang
kuat pada kelompok menciptakan norma yang mengikat para anggota kelompok.
Sistem ekonomi yang dilakukan pada Kelompok Tani Bangun Karyo dengan menggunakan
suatu system yang dinamakan Pasar Lelang, dimana Inisiatif membuat pasar
tersebut merupakan dari hasil pikiran ketua Kelompok Bangun Karyo yaitu Pak
Sudiro, dimana beliau prihatin dengan pendapatan yang didapatkan oleh
anggotanya sering tidak sesuai dengan hasil dari panen yang mereka dapatkan
dengan alasan beberapa factor seperti sering mengalami penipuan harga dari
pedagang pengumpul, tidak adanya posisi tawar (bargaining position) para petani dihadapan para pedagang pengumpul
sehingga muncullah system pasar lelang. Hasil panen dari seluruh anggota
kelompok akan dilelang oleh kelompok dengan mengundang para pedagang pengumpul
untuk melakukan lelang dan pendapatan yang didapatkan dari pasar lelang akan
dibagikan langsung kepada para anggota kelompok sesuai dengan hasil panen yang
disumbangkan oleh para anggota kelompok sehingga para anggota kelompok masih
sangat bergantung pada system pasar lelang tersebut untuk meraih pendapatan
dari hasil panen mereka. Subejo, (2013) menjelaskan bahwa masyarakat umumnya
memiliki institusi local yang sebenarnya dapat dikaitkan dengan usaha kerja
sama produktif, dimana masyarakat local di pedesaan jawa dengan keterbatasan
sumberdaya produksi telah membangun berbagai institusi pertukaran kerja yang
ternyata sangat efesien dan efektif serta dapat berlangsung dalam kurun waktu
yang lama dan secara terus menerus[11].
Dapat dikatakan bahwa pemberdayaan ekonomi dalam kelompok Tani Bangun Karyo,
dari segi kelompok dapat dikatakan berdaya karena kelompok Tani Bangun Karyo
dengan kemandirian dapat mengakses hasil produksi yang mereka hasilkan serta
dapat mempertukarkan barang maupun jasa sesuai dengan system yang mereka buat
sendiri, tetapi pada tingkatan individu anggota kelompok sendiri, belum
memiliki kemandirian yang besar dalam proses produksi ekonomi, dan masih
bergantung pada system yang telah dibuat oleh kelompok.
3. Pemberdayaan Sosio-Psikologi
Manusia
sebagai makhluk individu yang memiliki kebutuhan yang tidak terbatas, selalu memiliki
hasrat untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, dan sebagai makhluk bebas maka
selayaknya seorang manusia dapat menentukan kebutuhan hidupnya tersebut tanpa
ada tekanan. Dalam kelompok Tani Bangun Karyo ketertarikan anggota kelompok
ingin bergabung karena adanya suatu tujuan yang sama dengan kelompok yaitu
untuk dapat memperbaiki taraf hidup mereka. Organisasi atau suatu kelompok
merupakan dua orang atau lebih yang memiliki tujuan bersama, dan berusaha untuk
mencapai tujuan tersebut. Kehidupan Para anggota kelompok Tani Bangun Karyo
semenjak bergabungnya mereka dalam kelompok ini dapat dikatakan bahwa secara
perlahan taraf hidup mereka dapat meningkat. Kemampuan para anggota kelompok
untuk dapat menentukan pola hidup mereka, dengan dapat menentukan kebutuhan-kebutuhan
yang mereka butuhkan dapat mereka kerjakan sendiri. Pak Sudiro selaku ketua
kelompok Tani Bangun Karyo menjelaskan bahwa setelah masyarakat Desa Garongan
bergabung dalam kelompok tani ini, secara kemampuan hidup dalam membangun rumah
dapat mereka lakukan yang dulu rumahnya bisa dikatakan tidak layak huni
(berbahan kayu) tetapi sekarang secara perlahan para anggota ini dapat
membangun rumah dari semen dan batu, serta untuk dapat memenuhi kebutuhannya
para anggota ini tidak perlu lagi untuk mencari pinjaman di orang lain karena
pendapatan mereka baik untuk pendidikan maupun untuk berobat di puskesmas dapat
mereka lakukan.
Untuk
membangun suatu masyarakat yang ekonominya terbelakang itu harus bisa
menyediakan suatu system perangsang yang dapat menarik aktivitas warga
masyarakat sehingga dapat memperbesar kegiatan orang bekerja, memperbesar
keinginan orang untuk menghemat dan menabung dan memperbesar keberanian orang
untuk mengambil resiko dalam hal mengubah secara revolusioner cara-cara yang lama.
Sehingga dapat dikatakan bahwa ketika para masyarakat Desa Garongan bergabung
dalam kelompok Tani Bangun Karyo secara perlahan proses perbaikan kehidupan
para anggotanya tersebut dapat mereka lakukan secara sendiri dan mandiri, dan
dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan untuk hidupnya tidak lagi menggantungkan
pada orang atau pihak lain. Dengan system yang digunakan dalam kelompok Tani
Bangun Karyo membuat para anggotanya untuk tertarik bergabung, terdorong dan
terbina supaya bekerja secara disiplin dan efesien yang bersifat modern, dengan
selalu memikirkan hari kedepannya sehingga proses pemberdayaan dalam anggota
kelompok tani Bangun Karyo dalam aspek kebutuhan social dan psikologinya dapat
secara mandiri dilakukan oleh para anggotanya.
4. Pemberdayaan Politik
Keberhasilan
suatu masyarakat dalam mempertahankan eksistensinya dalam suatu kehidupan
ketika masyarakat tersebut memiliki kekuatan untuk dapat bargaining dalam kehidupan bermasyarakat tersebut. Suatu keadaan
yang menguntungkan segolongan masyarakat dipengaruhi salah satunya oleh
keputusan-keputusan yang nampaknya netral dan objektif serta kesadaran atas
masalah siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, merupakan pra kondisi
bagi setiap campur tangan realisitis yang memberi manfaat kepada golongan miskin
tersebut[12]. Eksistensi
kelompok tani Bangun Karyo sebagai suatu kelompok yang dapat mandiri dan
menentukan sendiri proses berjalannya kelompok tersebut merupakan usaha dari
ketua dan para anggotanya dalam memperkuat posisi mereka sebagai suatu kelompok
yang kolektif dan memiliki posisi tawar terhadap intervensi-intervensi yang
dilakukan oleh pihak luar.
Dengan
tingkat kohesitivitas yang tinggi pada anggota kelompok bangun karyo, merupakan
salah satu kekuatan yang dimiliki oleh kelompok Tani Bangun Karyo dalam
memperkuat posisi kelompok mereka untuk menghadapi ketidakpastian lingkungan
dan pasar. Pak Sudiro menjelaskan bahwa kelompok tani Bangun karyo bukan
kelompok yang mudah dicampur tangan oleh pihak luar dimana proses seleksi yang
ketat dalam informasi maupun inovasi yang dapat digunakan dalam penanaman cabai
bukan asal langsung menerima saja, serta kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
oleh pemerintah daerah tidak semua dilakukan tetapi apabila tidak sesuai dengan
tujuan kelompok maka akan ditolak ataupun harus dilawan sehingga kelompok masih
tetap bisa bertahan. Marx menganggap bahwa suatu kekuasaan politik merupakan
sumber malapetaka terhadap eksistensi sebuah kelas social, sehingga strategi
pemberdayaan harus bertumpu pada pemberdayaan politik social. Solidaritas
anggota kelompok tani Bangun Karyo dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan
pemerintah daerah seperti halnya menentang kebijakan untuk relokasi lahan pasir
pantai untuk menjadi lahan tambang pasir besi yang merupakan lahan mereka
sebagai tempat dalam melakukan penanaman pertanian merupakan suatu kekuatan
yang dimiliki oleh kelompok tani Bangun Karyo dalam kemandirian politik. Secara
khusus, pemberdayaan dilakukan dalam rangka mengurangi eliminasi, serangan, dan
valuasi negative oleh kelompok-kelompok yang berkuasa dalam masyarakat yang
memberikan pengaruh terhadap kehidupan individu dan kelompok social[13].
Kemampuan kelompok tani Bangun Karyo menarik minat dari para
perusahaan-perusahaan swasta yang bergerak pada saprodi pertanian seperti
halnya pupuk, pestisida untuk menawarkan produk mereka kepada kelompok dan
memiliki posisi tawar di mata perusahaan, menyebabkan kelompok Tani bangun
Karyo dapat menyeleksi dengan baik produk-produk yang cocok dan memiliki
keuntungan untuk kelompok tani tersebut. Tingkat partisipasi anggota kelompok
sebagai motivasi kebutuhan dalam mengaktualisasikan dirinya dan mengangkat
harga dirinya dalam kelompok dengan berani untuk mempengaruhi keputusan
kelompok serta memberikan ide maupun gagasan dalam forum kelompok maupun diluar
kelompok atau tingkatkan yang lebih di atas kelompok merupakan salah satu
proses pemberdayaan dalam aspek politik yang dihasilkan oleh kelompok tani
Bangun Karyo. Dalam sosiologi structural fungsionalis Parson, menyatakan bahwa
konsep power dalam masyarakat adalah variable jumlah, sehingga power masyarakat merupakan kekuatan yang
dimiliki anggota masyarakat secara keseluruhan yang disebut tujuan kolektif.
Filosofis dari pengontrolan diri dan tanggung jawab personal dalam
pemberdaayaan memiliki pendekatan yang sangat humanis sehingga power, kelas dan
tekanan sebagai salah satu aspek masyarakat yang menunjukkan adanya aktualisasi
diri dan harus diaktifkan dalam sesuatu yang sangat signifikan[14].
5.
Mobilitas Sosial
Manusia pada umumya mengharapkan dalam
suatu masyarakat memiliki ada perbedaan kedudukan dan peranan dengan harapan
dapat mengaktualisasikan dirinya dan menaikkan harga dirinya. Dalam suatu
kelompok keinginan manusia tersebut dalam memiliki kedudukan dan peranan
tercipta dalam bentuk struktur social dimana tiap individu melalukan suatu
gerak dalam pola-pola tertentu yang mengatur kelompok tersebut. Kemampuan
menciptakan gerak social dalam suatu kelompok diharapkan tingkat partisipasi
anggota dalam kelompok tersebut dapat meningkat. Jim Ife dan frank tesoriero
(2008), menjelaskan bahwa program pengembangan masyarakat harus mendorong
pengakuan dan peningkatan hak maupun kewajiban untuk berpartiipasi, dimana
mendorong partisipasi merupakan bagian kritis dari proses pengembangan
masyarakat[15].
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kelompok
Tani Bangun Karyo dalam memobilisasi anggotanya dengan harapan menciptakan
tingkat partisipasi yang tinggi dari anggotanya tersebut merupakan salah satu
alasan yang menyebabkan kekuatan dari kelompok tani Bangun Karyo sebagai suatu
kelompok dapat bertahan dengan baik. Pergeseran paradigm yang diciptakan oleh
Kelompok kepada para anggotanya sebagai seseorang yang dapat aktif dan selalu
bergerak untuk mencari informasi maupun ikut serta dalam suatu
kegiatan-kegiatan tingkat desa bukan untuk hanya diam dan pasif menunggu
intervensi dari luat menciptakan kemandirian bagi para anggotanya. Dalam mempertahankan
lahan pasir pantai sebagai tempat mereka untuk bercocok tanam dari oknum-oknum
preman yang ingin menguasai, dengan menggerakkan para anggotanya dan
memfasilitasi kebutuhan anggotanya untuk dapat dimobilisasi dengan baik serta
dengan perencanaan yang matang menciptakan partisipasi yang tinggi dari para
anggota kelompok tani Bangun Karyo untuk ikut berpartisipasi. Jim ife (2008)
menjelaskan salah satu kesuksesan kelompok dalam meningkatkan partisipasi
karena orang bisa berpartisipasi dan didukung dalam partisipasinya dimana
isu-isu seperti keamanan, waktu, lokasi kegiatan dan lingkungan tempat kegiatan
akan dilaksanakan sangat penting dan perlu diperhitungkan dalam perencanaan
proses berbasiskan masyarakat[16].
Pak Sudiro (ketua kelompok) menjelaskan bahwa dalam mempertahankan lahan pasir
pantai merupakan inisiatif dari para anggotanya dengan membuat rencana yang
matang dan mempersiapkan perangkat keras untuk mencegah hal-hal yang tidak
dinginkan. Beliau juga menjelaskan bahwa kelompok untuk memfasilitasi kegiatan
tersebut, membuat system pengumpulan dana yang diambil dari hasil pasar lelang
sebesar 50 rupiah per kilogram sebagai dana yang digunakan untuk menjaga
keamanan kelompok. Kekuatan bertahan di masyarakat berdasarkan tujuan untuk
mempertahankan segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan masyarakat, biasanya
kekuatan ini dicerminkan oleh rasa menentang inovasi baru atau mungkn terbatas
pada inovasi tertentu yang diduga akan menimbulkan perubahan terhadap sesuatu
yang selama ini telah dimiliki dan dipertahankan[17].
Dengan mengangkat isu-isu penting yang dapat mengganggu aktivitas kelompok dan
anggotanya pada khususnya, sehingga pelaksanaan mobilisasi social dalam
kelompok Tani Bangun karyo berasal dari kesadaran-kesadaran para anggotanya
sendiri.
PENUTUP
Sesungguhnya,
pembangunan social adalah respon dari pembangunan ekonomi yang telah
mendominasi pembangunan nasional saat ini. Proses pemberdayaan sebagai salah
satu strategi pembangunan social dengan menciptakan kemandirian pada suatu
masyarakat dengan menggunakan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki dalam
memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki di sekitar mereka. Kebijakan top-down maupun bottom-up sebagai bentuk dalam proses pemberdayaan masyarakat
dinilai belum dapat menciptakan kemandirian masyarakat yang seutuhnya sehingga
perlu adanya pengintergrasian antara konsep pengoorganisasian masyarakat atau
komunitas serta pengembangan masyarakat atau komunitas sebagai suatu kesatuan
yang saling komplementer.
Kelompok tani
Bangun Karyo merupakan salah satu kelompok yang dapat bertahan dari
ketidakpastian lingkungan dan perubahan pasar dengan cara dapat memberdayakan
secara kelompok maupun anggotanya. Kemampuan kelompok untuk memfasilitasi
seluruh kebutuhan dan menyatukan tujuan anggota kelompok dengan tujuan kelompok,
menciptakan kemandirian pada kelompok dan para anggotanya. Dalam pemberdayaan
informasi dengan
menerapkan keputusan secara kolektif pada kelompok menyebabkan Kelompok Tani
Bangun karyo mampu memancing para anggotanya untuk dapat memberikan aspirasinya
masing-masing dan setiap anggota diberikan keluasan yang selebar-lebarnya untuk
mencari informasi diluar kelompok yang kemudian dapat dirundingkan dalam
kelompok sebagai keputusan bersama dalam kelompok. Pada aspek pemberdayaan
ekonomi, Sistem ekonomi yang
dilakukan pada Kelompok Tani Bangun Karyo dengan menggunakan suatu system yang
dinamakan Pasar Lelang yang merupakan inisiatif dari ketua kelompok, dengan
alasan beberapa factor seperti sering mengalami penipuan harga dari pedagang
pengumpul, tidak adanya posisi tawar (bargaining
position) para petani dihadapan para pedagang pengumpul sehingga hasil
panen dari seluruh anggota kelompok akan dilelang oleh kelompok dengan
mengundang para pedagang pengumpul untuk melakukan lelang dan pendapatan yang
didapatkan dari pasar lelang akan dibagikan langsung kepada para anggota
kelompok sesuai dengan hasil panen yang disumbangkan oleh para anggota
kelompok. Kemampuan anggota kelompok untuk menentukan kebutuhan yang mereka
inginkan serta mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut merupakan salah satu
aspek pemberdayaan aspek sosio psikologis yang ditimbulkan dalam kelompok Tani
Bangun Karyo. Solidaritas anggota kelompok tani Bangun
Karyo dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah daerah seperti halnya
menentang kebijakan untuk relokasi lahan pasir pantai untuk menjadi lahan
tambang pasir besi yang merupakan lahan mereka sebagai tempat dalam melakukan
penanaman pertanian merupakan suatu kekuatan yang dimiliki oleh kelompok tani
Bangun Karyo dalam kemandirian politik. Dalam menggerakkan anggotanya untuk
dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
kelompok baik itu pada forum-forum maupun memobilisasi untuk menjaga keamanan
dari intervensi pihak luar yang dapat merugikan kelompok secara mandiri
merupakan aspek pemberdayaan dalam mobilitas social yang dapat dilakukan oleh
Kelompok tani Bangun Karyo.
DAFTAR PUSTAKA
Alfitri, 2011. Community Development Teori
dan Aplikasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Chambers,
Robert. 1987. Pembangunan Desa dari
Belakang. Diterjemahkan oleh Pepep Sudrajat. Jakarta: LP3ES
Hikmat, R. Harry. 2006. Strategi Pemberdayaan Masyarakat.
Bandung: Humaniora
Kartasasmita, Ginanjar. 1997. Pemberdayaan masyarakat: Konsep Pembangunan
yang Berakar Pada Masyarakat. Surabaya : Disampaikan pada Sarasehan DPD
Golkar Tk. 1 Jawa Timur. (di akses pada tanggal 11 juli 2013)
Sajogyo
dan Pudjiwati Sajogyo. 2011. Sosiologi
Pedesaan Jilid 1 Cetakan Ke lima Belas. Yogyakarta : UGM PRESS
Subejo.
“Sumber Daya Manusia Pertanian dan Pedesaan”. Dalam Subejo. 2013. Bunga Rampai Pembangunan Pertanian dan
Pedesaan. Jakarta : UI-Press.
[1] Muhammad Dalvi Mustafa merupakan
mahasiswa S2 pasca sarjana Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Universitas
Gadjah Mada
[2] Alfitri, 2011. Community Development Teori
dan Aplikasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. h 22
[3] Ibid.
[4]
Ginanjar Kartasasmita,
1997. Pemberdayaan masyarakat: Konsep
Pembangunan yang Berakar Pada Masyarakat. Surabaya : Disampaikan pada
Sarasehan DPD Golkar Tk. 1 Jawa Timur. h 1
[5] Alfitri. Op. cit., h 31
[6] Subejo. “Sumber Daya Manusia
Pertanian dan Pedesaan”. Dalam Subejo. 2013. Bunga Rampai Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Jakarta :
UI-Press. h 163
[7] Alfitri, Op
Cit. h. 32
[8] Harry R Hikmat. 2006. Strategi Pemberdayaan Masyarakat.
Bandung: Humaniora. h. 16
[9] Rangkuman hasil wawancara Ketua Kelompok Tani Bangun Karyo (Pak Sudiro)
Pada tanggal 29 juni 2013
[10] Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo.
2011. Sosiologi Pedesaan Jilid 1
Cetakan Ke lima Belas. Yogyakarta : UGM PRESS. h. 31
[11] Subejo Op Cit. h 162
[12] Robert Chambers. 1987. Pembangunan Desa dari Belakang.
Diterjemahkan oleh Pepep Sudrajat. Jakarta: LP3ES. h. 240
[13] Harry R Hikmat. Op. CIt h. 53.
[14] Ibid. h. 57
[15] Alfitri. Op. Cit. h. 41
[16] ibid
[17] Harry R Rahmat. Op. Cit. h. 74
Tidak ada komentar:
Posting Komentar